“Darah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah. Masa muda, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli. Biasanya para remaja berpikirnya sekali saja, tanpa menghiraukan akibatnya. Wahai kawan para remaja, waspadalah dalam melangkah agar tidak menyesal akhirnya”. Lagu ‘Darah Muda’ yang populer di era 80-an tersebut cukup mewakili dunia remaja, suka tantangan dan sulit diatur. Tak heran jika kebanyakan orangtua mulai cenat-cenut ketika anak wadon dan lanang mereka memasuki usiabaligh. Nah, apa saja kiranya kecemasan yang biasa dialami kaum remaja ? Silakan simak paparan di bawah ini..
Ga Mau Dibilang Kuper
Pada usia remaja, tekanan teman sebaya dan tuntutan konformitas menjadi sangat tinggi. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar remaja enggan mendapat label kuper alias kurang pergaulan. Hal ini dapat bersifat positif maupun negatif, tergantung pada kelompok mana yang diikuti. Akan tetapi, tidak selalu identitas kelompok mengarahkan identitas pribadi, Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya pakaian, musik, dsb. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya biasanya juga mereka mencari yang memiliki nilai-nilai sejenis (dalam Perkins, 2000).
Tergantung Mood
Moody, mudah bosan, gampang marah merupakan bawaan masa anak-anak yang terbawa ke fase remaja. Mood terbagi menjadi 2 yakni mood-dependent memory (suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu) dan mood congruence effects (kecenderungan untuk menyimpan/mengingat informasi positif saat mood sedang baik dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap/diingat ketika mood sedang jelek) [Bryne & Baron, 2000]. Karena itulah, ketika orangtua ingin berbicara dengan anak remajanya, perlu melihat timing yang pas, apakah anak sedang dalam mood yang baik atau tidak ? Juga saat nilai pelajaran merosot, bisa dipastikan anak saat itu sedang dalam masalah atau keadaan yang membuat gak mood. Sehingga pertanyaan yang muncul bukan, “Kenapa nilainya turun ?” tetapi, “Sedang ada masalah apa kah ?”.
Tertarik Tantangan
Remaja suka mencoba hal-hal beresiko, dalam rangka untuk mencari jati dirinya (self-concept) dan mendapat pengakuan (self-efficacy). Kenekatan tersebut tentu memunculkan kecemasan, “Apakah aku mampu menaklukkan tantangan ini atau tidak ?”. Kecemasan merupakan fenomena kognitif dari ketidakjelasan hasil di depan dan terlalu fokus pada hasil negatif. Pada kondisi ini, selama hal beresiko yang ingin dicoba save dan masih dalam koridor sesuai aturan syar’i, maka tugas orangtua adalah memberikan support, dan membesarkan hati anak ketika ia belum berhasil mengalahkan tantangan.
Debar-Debar Asmara
Kata pubertas yang selalu berbarengan dengan remaja merupakan suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat. Pada masa ini, Konsentrasi hormon-hormon tertentu meningkat atau biasa disebut dengan banjir hormon. Hal ini menjadi faktor pemicu ketertarikan dan keinginan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis mulai muncul. Rasa suka tersebut memang tidak bisa dihindarkan, tetapi jika dibiarkan bebas tanpa ada kendali dikhawatirkan berujung pada hal-hal yang melanggar syari’at. Oleh karenanya, orangtua harus peka ketika melihat anak remajanya mulai terkena panah asmara. Dengan komunikasi dan pengarahan yang baik, anak akan berusaha mengalihkan pikiran-pikiran tentang Si dia kepada hal-hal yang lebih bermanfaat.
Orangtua Gaul plus Obat Galau
Memasuki fase remaja memang akan terlihat anak mulai sering ‘melawan’ orangtua, bahkan ada yang sampai memposisikan orangtua sebagai musuhnya. Anak dengan keinginan besarnya mengeksplorasi masa muda dan orangtua dengan segudang pengalaman dianggap terlaluprotective. Manakah yang harus mengalah ? Anak yang diminta patuh dan memahami keinginan orangtua ? atau orangtua yang lebih dulu memahami anak ? Karena orangtua seharusnya lebih dewasa, jadi memang sudah sewajarnya orangtua dahulu yang menurunkan ego untuk merangkul anak remajanya. Ketika orangtua tetap angkuh, justru hanya akan memperpanjang konflik dan menambah list masalah bagi remaja.
Sebenarnya orangtua tidak perlu khawatir ketika anak beranjak remaja dan mulai banyak menghabiskan waktu bersama teman sebayanya. Karena kuncinya ada pada bagaimana pola asuh serta penanaman nilai-nilai agama & moral yang diberikan orangtua kepada anak sejak kecil. Jika anak bisa menginternalisasi nilai-nilai tersebut dengan baik, maka dimana dan dengan siapa pun dia berada, anak akan bisa membawa diri. Akan tetapi, bukan lantas orangtua memberikan kebebasan penuh, pengarahan tetap harus dilakukan. Nah, bagaimana cara mengarahkan remaja ? Salah satunya adalah dengan mengenali kesukaan anak. Jadilah ‘orangtua gaul’ yang hidup di masa kini, cari tau semua hal yang berhubungan dengan kesukaan anak, mulai dari istilah-istilah/bahasa yang sering diucapkan, barang-barang, idola, dsb, sehingga obrolan antara anak dan orangtua pun nyambung. Kemudian, jika hal yang disukai itu berhubungan dengan bakat maka sebaiknya orangtua berusaha mencarikan referensi buku-buku terkait, komunitas sebaya dan mentor yang cocok untuk mengembangkan bakatnya. Dengan demikian, kegiatan remaja di luar rumah pun akan lebih terarah dan bermanfaat ketimbang sekedar kongkow-kongkow hambur waktu dan uang yang ga jelas.

Di samping gaul, orangtua juga sudah semestinya menjadi tempat curhat pertama ketika remajanya sedang dirundung galau. Saat anak sedang ada masalah dengan pelajaran, guru, sakit hati dengan teman, suka dengan lawan jenis, lagi jerawatan, kalah tanding, dll, sediakan lah waktu untuk memahami keluhannya, bahu untuk tempat bersandar letihnya, usapan sayang untuk menghapus tangisnya, pelukan untuk menguatkannya, dan nasihat bijak untuk menuntunnya mencari problem solvingyang tepat. Dengan begitu, ketika ada masalah anak akan merasa cukup dengan meminta obat galau kepada orangtua, bukan mencari pelarian obat-obatan terlarang, bahu sandaran dari lawan jenis atau hal negatif lainnya. Kalau saat ini dirasa belum bisa menjadi obat galau bagi remajanya, maka mulai lah dari hal kecil, misal mengagendakan sharing saat makan bersama. Jika anak malu-malu untuk bercerita, mulai lah dari orangtua dulu yang terbuka, mungkin dengan cerita kejadian-kejadian menarik saat remaja dulu. Wah, bisa dibayangkan.. Suasana rumah yang akrab jelas lebih membuat remaja betah di rumah, ketimbang setiap pulang ke rumah yang ada hanya perintah-larangan, omelan, kritikan dan tuntutan. Wallahu’alam.