NASKAH DRAMA "60 MENIT"
Suasana panggung terlihat suram dengan setting sebuah kamar tidur dan terdapat seoang gadis remaja sedang menangis sambil menutup kedua telinganya dengan bantal. Dia adalah Putri gadis remaja berumur 17 tahun. Di luar kamar terdengar suara pecahan piring dan makian dari Ayah dan Mamanya Putri. Tidak lama kemudian Putri mengambil telepon selulernya dan mencoba menghubungi Linda, sabahat karibnya sejak mereka duduk di Bangku TK. Setelah berbicara melalui telepon seluler, Putri mengambil sebuah tas dan mengemasi pakaian dan buku-buku sekolahnya. Dengan keluar melalui jendela kamar, Putri mencoba kabur dari rumahnya.
Suasana panggung berubah menjadi setting sebuah ruang tamu. Tampak 2 orang remaja putri yang sedang berbincang. Mereka adalah Putri dan Linda.
Putri : Linda, aku sudah benar-benar tidak tahan. Hampir setiap hari dan setiap saat aku mendengar bapak dan ibuku bertengkar.
Linda : Kamu yang sabar ya. Mungkin memang saat ini ayah dan mamamu sedang ada masalah. Berdoa ya semoga masalah beliau segera bisa diatasi.
Putri : Hatiku hancur waktu mendengar ibuku minta cerai. Seandainya mereka benar-benar bercerai, aku harus ikut siapa? Aku malu sekali Linda.
Linda : Aku mengerti sekali perasaanmu, tapi kamu juga jangan sampai terlalu sedih karena aku khawatir kalau kamu terlalu sedih nanti malah akan mempengaruhi sekolahmu. Kita sebentar lagi mau menghadapi UAS.
Putri : Ah biarlah, seandainya aku tidak naik kelas juga mungkin orang tuaku tidak peduli.
Linda : Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Hanya mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi terlihat seperti mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Linda : Tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Hanya mungkin saat ini mereka berdua sedang ada masalah jadi terlihat seperti mereka sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Putri : Percuma aku punya orang tua kalau setiap hari isinya bertengkar saja. Apa mereka berdua tidak malu dengan tetangga yang sudah pasti mendengar suara mereka bertengkar?
Dari ruangan dalam rumah keluarlah seorang ibu-ibu sambil membawa pisang goreng dan teh manis. Ibu itu adalah Ibu Gasi. Beliau adalah Ibunya Linda.
Ibu Gasi : Tidak baik bicara seperti itu Putri. Apapun yang terjadi, mereka berdua adalah orang tuamu. Banyak anak-anak di luar sana yang sangat menginginkan mempunyai orang tua
IbuGasi : Bersikaplah seperti biasa, tetap menjadi anak yang penurut. Bila ada kesempatan yang tepat, cobalah bicara dengan ayah dan mamamu. Sampaikan bahwa kamu merasa sangat tidak nyaman bila mereka berdua bertengkar.
Putri : Ok, Besok kalau saya sudah dirumah akan saya coba bu.
Linda : Nah, kamu jangan sedih lagi ya. Ayo dong tersenyum lagi! (sambil mengusap air mata Putri dan membelai rambut Putri)
Putri : Terima kasih Linda, terima kasih Ibu Gasi. Lin, kamu beruntung sekali memiliki ibu seperti beliau.
Linda : Lho sejak dulu kan kamu sudah dianggap bagian dari keluargaku. jadi ibuku juga ibumu lho. Benar kan bu?
Ibu Gasi : Iya benar. Putri sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri.
Putri : Bu, malam ini saya boleh menginap disini?
Ibu Gasi: Boleh, tapi kamu harus telp ke rumah dulu. Beritahu ayah dan mamamu kalau kamu menginap disini supaya mereka berdua tidak bingung mencari kamu ada dimana.
Putri: Iya bu, terima kasih. Segera saya telepon mama.
Keesokan harinya, Putri pergi ke pasar dengan Linda. Mereka bersenda gurau. Tiba-tiba hidung Linda mengeluarkan darah. Putri langsung membawa Linda ke puskesmas terdekat.
Putri : Apakah kamu baik baik saja?
Linda : Iya, ak baik baik saja. Ayo kita pulang? Pasti ibu sedang menunggu kita dirumah.
Putri : Tapi badan kamu masih lemas, bukan?
Linda : Sudah ayo cepat pulang, Put!
Sesampai dirumah, mama menelponku untuk segera pulang. Dengan perasaan sedih, aku meninggalkan Linda yang lemas di ranjang tempat tidur. Tetapi ibu Gasi melarangku untuk pergi. Entah alasan apa yang mendasari beliau untuk melarangku pergi menemui mamaku.
Linda : Put, jadilah kamu orang baik kelak di kemudian hari. Tidakkah semua permasalahan yang terjadi di dunia ini merupakan cobaan dan ujian dari Allah? Kiranya aku hanya memberi semua kenangan indah atas persahabatan kita. Memberimu sedikit titik terang dari semua ini.
Putri : Ahh, kamu bicara apa sih? Aku tidak paham. Kamu berbicara seolah-olah kamu akan meninggalkan aku sendiri di dunia ini.
Ibu Gasi : Ajak Linda keluar sebentar Putri. Siapa tahu dengan bersenang – senang dengan kamu, Linda semakin sehat.
Putri : Iya bu, Permisi (sambil mendorong kursi roda yang telah diduduki oleh Linda)
Linda : Put, kamu tahu seberapa besar nilai persahabatan kita?
Putri : Tau!! Besar sekali, bukan ? (canda putri sambil mencolek pipi Linda)
Linda : “Persahabatan kita diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian” Betul tidak ?
Putri : (ketawa) Betul. Eh iya Lin, kamu sebenarnya sakit apa sih?
Linda : Kanker Otak (senyum sedikit)
Putri : (kaget) Maksudnya? Kamu mengidap penyakit kanker otak? Lantas mengapa kamu tidak bercerita kepadaku Lin?
Linda : Aku tak ingin membebani sahabatku yang manis sepertimu dengan beberapa masalah baru. Tetaplah tersenyum untukku Putri. Sudah ayo, antar aku pulang. Daritadi kita bernostalgia terus. (memegang tangan Putri)
Putri : Kamu bohong ya? Mengapa mukamu sama sekali tidak ada kesedihan ? Terus mengapa kamu daritadi melihat jam tangan? Kan kita sedang bercanda-canda. Bercanda denganku saja perlu diberi waktu.
Linda : Kita telah bercanda disini sudah hampir 45 menit. 15 Menit lagi kita harus pulang Put. Kamu dan aku hanya memiliki waktu 1 jam.
Putri : Iya iya, Linda bawel. Jalan seperti biasa atau ngebut? (goda Putri kepada Linda)
Linda : Terserah kamu, yang penting aman (gurau Linda kepada Putri)
Sesampai dirumah, Linda beristirahat di kamar. Tak lama Ibu Putri menelepon dan menyuruh putri untuk pulang. Sesegera mungkin Putri berpamitan kepada Ibu Gasi dan Linda. Sebelum pulang, Putri diberi surat oleh Linda dan berpesan untuk segera meminta maaf ke ibunya. Putri bergegas mengambil tas dan pulang ke rumah. Dirumah, Putri minta maaf kepada orangnya. Dia mengaku bersalah karena sudah membentak kedua orang tuanya. Akhirnya, mereka semua menangis terharu.
Putri : Ma, maafkan kesalahan Putri. Putri mengaku salah. Putri berharap mama dan ayah segera kembali membentuk keluarga yang seperti dulu.
Mama : Iya nak, mama dan ayah akan segera kembali seperi dulu yang sayang kepada keluarga dan sayang kepadamu. Oh iya nak, kamu meminta maaf ini tulus dari hati dirimu sendiri atau disuruh oleh nenekmu? Kan biasanya kamu dekat sekali dengan nenekmu.
Putri : Bukan ma, Putri minta maaf ini atas keinginan Putri sendiri. Awalnya juga Putri udah disadarkan oleh sahabat Putri yang bernama Linda. Dia baik sekali ma, dia orangnya penyabar, dia pengertian sekali. Putri salut sekali sama Linda.
Mama : Oh jadi begitu. Ya sudah nak, cepat kamu istirahat di kamar.
Putri memasuki kamar sambil membawa surat pemberian Linda. Lalu telepon rumah berdering, ternyata yang menelpon adalah Ibu Gasi. Ibu Gasi mengabari Putri bahwa Linda telah meninggal dunia. Seketika itu Putri membuka surat yang diberikan oleh Linda yang bertuliskan “Ibarat persahabatan kita adalah mengenai jam dan lampu. Dimana lampu itu akan menerangimu dan kamu akan menerangiku. Jamnya biarkan terus berdetik. Berputar seperti pertemanan kita sampai kita tak mampu berdetik lagi di dunia ini. Apalagi di dalam jam itu pastilah ada baterai. Biarkan baterai itu seperti sesuatu yang akan memperbaiki persahabatan kita kelak bila kita bertengkar. 1 jam terakhir tersebut akan menjadi sejarah di kehidupan kita”. Seusai membaca surat itu, air mata Putri jatuh tak tertahankan. Ia pun berpelukan dengan mamanya dan segera pergi menuju rumah Linda.

No comments:
Post a Comment